Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
[CALL FOR PAPERS] Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah XVI 2017 | 12-14 September 2017 di Universitas Sebelas Maret, Solo | INFORMASI FREKS XVI 

Sukuk Global Indonesia Semakin Mendunia

Updated: Selasa 4 April 2017 - 10:14 Kategori: Ekonomi Syariah Posted by: Santoso Permadi

Peran Sukuk Negara yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan. Sukuk Negara bukan hanya berperan sebagai instrumen pembiayaan APBN dan pembangunan proyek-proyek infrastruktur pemerintah saja, tetapi juga berperan sebagai instrumen investasi baik bagi korporasi maupun individu. Sebagai instrumen investasi, secara tidak langsung Sukuk Negara juga berperan dalam mendorong kemajuan industri keuangan syariah baik perbankan maupun non perbankan di Indonesia. Seiring berkembangnya waktu, peran Sukuk Negara tidak hanya pada level domestik saja. Dalam rangka berpartisipasi mendorong perkembangan keuangan syariah global, Sejak tahun 2009 Pemerintah juga telah menerbitkan Sukuk Negara yang dipasarkan di pasar keuangan internasional atau dikenal dengan Sukuk Global Indonesia.

Pemerintah memandang bahwa perkembangan keuangan syariah global merupakan peluang untuk menghubungkan investor global dengan sektor keuangan dan riil domestik. Selain itu, perkembangan keuangan syariah merupakan kesempatan bagi pemerintah untuk menyediakan instrumen-instrumen keuangan yang dibutuhkan oleh lembaga keuangan syariah domestik maupun global agar dapat mengembangkan investasinya. Di sisi lain dana yang dimiliki oleh lembaga keuangan syariah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pengelolaan pembiayaan APBN. Sehingga penerbitan instrumen investasi berbasis syariah tersebut menjadi simbiosis mutualis yang memberikan keuntungan bagi pemilik dana maupun pemerintah.

Penerbitan Sukuk Global juga merupakan salah satu upaya untuk melakukan diversifikasi sumber-sumber pembiayaan APBN. Selain itu, penerbitan Sukuk Negara di pasar internasional dipandang lebih efisien bila dibandingkan dengan penerbitan domestik. Hal tersebut dapat dilihat dengan membandingkan nilai imbal hasil yang diberikan Sukuk Global dengan Sukuk Negara yang diterbitkan di pasar domestik dengan tenor sama. Berdasarkan data yang ada, terdapat perbedaan selisih imbal hasil pada kisaran 00 s.d. 00 basis points (- persen).

Sebgai bukti dukungan terhadap perkembangan pasar keuangan syariah internasional secara berkelanjutan, pada tanggal 29 Maret 2017 Pemerintah Indonesia kembali menerbitkan Sukuk Global senilai 3 milyar USD atau setara Rp 39,9 triliun. Sukuk ini terbagi dalam dua tenor yaitu senilai 1 milyar USD untuk tenor 5 tahun dan 2 milyar USD untuk tenor 10 tahun. Penerbitan Sukuk Global ini sekaligus menjawab kekhawatiran para analis ekonomi  bahwa  penerbitan surat berharga pada saat ini dinilai kurang kondusif dikarenakan beberapa isu global seperti kenaikan The Federal Reserve Rate dan resesi ekonomi beberapa kawasan yang belum sepenuhnya pulih. Dengan tingkat imbalan Sukuk Global untuk tenor 5 tahun sebesar 3,4% dan 4,15% untuk tenor 10 tahun, menunjukkan bahwa kondisi perekonomian yang yang menjadi kekhawatiran para ekonom tidak banyak berpengaruh terhadap kenaikan tingkat imbalan (yield) yang diminta oleh investor. Selain itu, kondisi makroekonomi Indonesia yang cukup baik juga menjadi salah satu pendukung permintaan tingkat imbalan yang kompetitif sehingga transaksi ini memperoleh respon yang sangat baik dari investor global. Selama masa penawaran yang cukup singkat, permintaan investor mencapai 10,84 milyar USD atau sekitar 350% dari total penerbitan.

Penerbitan secara berkala di pasar keuangan internasional telah membuat Sukuk Global Indonesia ditunggu oleh para investor. Konsistensi Pemerintah dalam penerbitan Sukuk Global memberikan sinyal kepada para investor bahwa secara umum Pemerintah mampu mengelola perekonomiannya secara prudent dan mampu mengelola kewajibannya kepada pihak lain secara baik. Penerbitan Sukuk Global di tahun 2017 ini merupakan penerbitan sukuk di pasar internasional yang ke delapan. Penerbitan ini juga mencatatkan rekor sebagai penerbitan USD Sukuk terbesar di luar kawasan Timur Tengah dan merupakan sukuk berdenominasi USD terbesar yang diterbitkan oleh Pemerintah.

Dalam penerbitan tahun ini, investor Sukuk Global tersebar di seluruh kawasan potensial investor di dunia. Distribusi investor Sukuk kali ini adalah: (1) untuk tenor 5 tahun, investor yang berasal dari Islamic investor (kawasan Timur Tengah termasuk Malaysia) sebesar 27%, Amerika Serikat 21%, Asia (tidak termasuk Indonesia dan Malaysia) 28%, Eropa 14% dan investor yang berasal dari Inonesia 10%, (2) untuk tenor 10 tahun, investor yang berasal dari Islamic investor (kawasan Timur Tengah termasuk Malaysia) sebesar 29%, Amerika Serikat 29%, Asia (tidak termasuk Indonesia dan Malaysia) 23%, Eropa 10% dan investor yang berasal dari Inonesia 9% .

Sukuk Global Indonesia ini diterbitkan dengan menggunakan akad Wakalah dan ini merupakan kesempatan kedua penggunaan akad Wakalah dalam penerbitan Sukuk Global. Sebelum menggunakan akad ini, Pemerintah dalam beberapa kali penerbitan telah menggunakan akad Ijarah Sale and Leased Back. Penggunaan akad Wakalah ini dari sisi issuer memberikan beberapa keuntungan diantaranya adalah berkurangnya penggunaan underlying asset berupa Barang Milik Negara (BMN) serta bertambahnya underlying asset berupa aset yang akan berwujud di masa yang akan datang (proyek-proyek infrastruktur Pemerintah). Selain itu, dengan komposisi underlyng asset berupa BMN sebesar 51% dan proyek-proyek infrastruktur Pemerintah sebesar 49% tetap memberikan kepastian kesesuaian dari sisi syariah yang disyaratkan oleh para ulama Timur Tengah yaitu minimal 33%.

Akhirnya, kita berharap bahwa dengan penerbitan Sukuk Negara yang dilakukan secara berkelanjutan dan prudent manfaatnya akan dapat dirasakan bersama, yaitu praktik keuangan yang lebih berkeadilan.

Penulis: Eri Hariyanto *) 
Direktorat Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan

*)Tulisan adalah pendapat pribadi dan bukan kebijakan dari institusi tempat penulis bekerja 



comments powered by Disqus