Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

DASAR TRANSAKSI JUAL BELI DALAM ISLAM

Updated: Wednesday 26 February 2014 - 10:07 Kategori: Ekonomi Syariah Posted by: Erwin Permana Sidik

Tabiat manusia sesungguhnya tidak dapat berdiri sendiri dan mengurusi dirinya sendiri tanpa bantuan dan campur tangan orang lain. Setiap individu diberikan kelebihan dan keunikan yang berbeda yang tidak dimiliki orang lain, oleh karenanya manusia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Ada yang pandai menulis tapi kurang cakap untuk berbicara di depan umum ataupun sebaliknya, ada juga yang bisa mengkonsep teori tapi kurang mahir dalam praktek, makanya dibutuhkan orang ahli yang cakap dalam membuat teori dan orang yang ahli dalam praktis agar teori dapat terimplementasi dengan baik, ada yang mahir berdagang tapi kurang cakap dalam mengelola keuangannya dan lain sebagainya.

Sebuah pasar menjadi ramai dan hidup karena ada dua urusan yang bertemu yakni supply dan demand. Pembeli membutuhkan barang yang dijual pedagang agar kebutuhannya tercukupi, begitupula pedagang menginginkan barang dagangannya dibeli agar dapat memenuhi kebutuhannya. Dalam kondisi ideal, pedagang akan menawarkan barang dan menjelaskan kelebihan serta kekurangan dari barangnya kemudian pembeli akan memilih barang yang sesuai dengan kebutuhannya, ketika sudah saling sepakat maka terjadilah jual beli barang. Transaksi seperti ini diperbolehkan dalam Islam, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 29 :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Ayat diatas sebagai dasar transaksi jual beli dalam Islam, antara penjual dan pembeli harus saling ridlo dan jujur agar maslahat dapat tercapai. Apabila salah satu diantaranya melakukan kecurangan maka keberkahan dan kemaslahatan dalam transaksi akan hilang dan akan menimbulkan kemadharatan seperti saling curiga, perselisihan, dan lain sebagainya. Maka pada masa pemerintahan Amirul Mukimin Umar Bin Khattab ra. melarang orang yang tidak memiliki ilmu yang cukup dalam jual beli untuk berdagang di pasar sebagai antisipasi terjadinya kecurangan karena ketidaktahuannya.

Hal ini diperkuat dengan Hadits Nabawi berikut :

“Dari Ibnu Umar Ra., ia bercerita bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ’Jika dua orang melakukan jual beli, maka masing-masing pihak mempunyai hak Khiyar (memilih) atas jual beli yang dilakukannya selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya sepakat atau salah satu dari keduanya memilih dan dilakukan transaksi, berarti jual beli telah terjadi secara sah; begitu juga seandainya keduanya berpisah setelah transaksi, sedangkan salah seorang dari keduanya tidak membatalkan transaksi, maka jual belinya juga sudah sah.’ (HR Bukhori, Sahihul Bukhori, Juz 2, No. Hadits 2112, 1400 H: 92)

Wallahu A'lam Bishawab,

 


comments powered by Disqus