Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
SAKSIKAN "ECONOMIC CHALLENGES SPECIAL RAMADHAN" Setiap Hari Kamis Pukul 20.00 WIB di Metro TV

HIDUP INDAH DAN BERKAH DENGAN EKONOMI SYARIAH

Updated: Kamis 19 Desember 2013 - 9:30 Kategori: Ekonomi Syariah Posted by: Maiz Wahid Anshori

HIDUP INDAH DAN BERKAH DENGAN EKONOMI SYARIAH[1]

Oleh  Maiz Wahid Anshori[2]

Sebagai seorang khalifah di muka bumi, manusia diberikan amanah oleh Allah Swt untuk menjaga bumi dan segala isinya dengan sebaik-baiknya dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan umat manusia itu sendiri.[3] Islam sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw sebagai petunjuk hidup di Dunia dan bekal di Akhirat[4] memiliki jalan hidup yang komprehensif yakni dengan triloginya diantaranya Aqidah, Syariah dan Akhlaq. Syariah Islam sebagai suatu Syariah yang dibawa oleh rasul terakhir, mempunyai keunikan tersendiri. Syariah ini bukan saja menyeluruh atau komprehensif, tetapi juga universal. Karakter istimewa ini diperlukan sebab tidak ada syariah lain yang datang untuk menyempurnakannya. Komprehensif berarti syariah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan baik ritual (ibadah/ta’abbudi) maupun sosial (muamalah/ta’aqquli). [5]

Muamalah sebagai bentuk interaksi sosial manusia, diturunkan untuk menjadi rules of the game atau aturan aturan main manusia dalam kehidupan sosial. Kelengkapan sistem muamalah yang disampaikan oleh Rasulullah Saw semuanya telah lengkap disampaikan kepada umat manusia. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya manusia melaksanakan kegiatan ekonomi dengan bekerja, berdagang, memproduksi barang dan jasa dan lain sebagainya. Islam mendorong pemeluknya untuk bekerja dan melarang umatnya untuk meminta-minta ataupun mengemis, seorang muslim yang baik adalah bekerja dengan memperhatikan faktor dunia dan akhirat secara seimbang.[6] Begitu pula dengan berbisnis, seorang muslim hendaknya dalam berbisnis kita tidak boleh hanya sekedar mengumpulkan keuntungan semata, namun juga bisnis yang kita bangun haruslah berdimensi kerahmatan bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) yakni berbisnis dengan cara syariah. [7]

Ekonomi Syariah berbasis pada religious worldview and vision yang diderivasikan dari Al-Qur’an dan Hadis, ekonomi syariah memandang kebutuhan manusia secara seimbang dan tanpa diskriminasi baik material maupun non material. Dengan demikian ekonomi syariah akan berfokus pada “optimalisasi” falah (kebahagiaan dunia dan akhirat) dan pemenuhan kebutuhan secara arif dan bijaksana. Ekonomi Syariah juga menekankan secara seimbang antara kerjasama (coorporation) dan persaingan (competition) berlandaskan pada social-interest yang seringkali membutuhkan sacrifice. Ekonomi Syariah bersandarkan pada system bagi hasil (profit and loss sharing) dan secara tegas melarang riba (usury), gharar (excessive speculation), dan maysir (gambling). Lebih lanjut Ekonomi Syariah juga mendorong social-walfare contract, seperti zakat (compulsory charity), wakaf (endowment resources), hibah, dan qordhul hasan (free-interest loan).[8]

Dewasa ini, Ekonomi Syariah bukan lagi suatu alternative (pilihan) tapi suatu keharusan (Agustianto:2012), usaha-usaha atau perilaku seorang muslim dalam menjalankan kegiatan ekonominya memiliki suatu tujuan (goals) yang teramat mulia yakni keridhoan Allah Swt. Jadi dalam setiap aktifitas ekonominya berusaha untuk menghadirkan sisi spiritual (ketuhanan)/ilahiyyah[9] dalam jual beli, bisnis, tander, perbankan, asuransi dsb. Memang tidak ada yang meragukan sistem kapitalis dalam mengefisienkan produksi dan peran sistem sosialis dalam upaya pemerataan ekonomi pun sangat berharga, akan tetapi kedua sistem tersebut telah mengabaikan pemenuhan kebutuhan spiritual yang sangat dibutuhkan oleh manusia.[10]

Lebih lanjut pendekatan yang dilakukan oleh Ekonomi Syariah adalah bukan berorientasi pada profit semata, namun juga berorientasi pada profit dan berkah[11], konsep berkah yakni النّما والزيادة[12] (penambahan kenikmatan) istilah ini pula dinamakan berkah ekonomi (windfall profit)[13]. Hidup kita akan terasa indah bila mengamalkan Ekonomi Syariah, hal didasarkan pada sikap Al Hurriyah (freedom of making contract), Al Musawamah (equity), Al Adalah (justice), Al Ridha (willingness), As Shidqu (faithful), Al Kitabah (documentation) kesemuaan sikap-sikap tersebut bermuara pada satu tujuan (goals) yakni mencari keridhoaan Allah Swt.[14] Keuntungan dari hasil usaha, kekayaan,  dan barang ekonomi lainnya hanyalah titipan Allah Swt bukan untuk hidup berfoya-foya dan maksiat, tetapi untuk kesejahteraan bersama[15], Islam melarang umatnya untuk serakah dan tamak dalam melaksanakan aktifitas ekonominya begitu pula Islam sangat mementingkan manusia yang bermoral didalam menjalankan aktivitasnya ekonomi, manusia yang bermoral akan melahirkan sifat yang dapat dipercaya dan bisa berkontribusi semaksimal mungkin untuk kebaikan dirinya, keluarganya, masyarakat dan dunia.[16]

Allah Swt berfirman :

ياأيها الذين آمنو ادخلو في السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدّو مبين (البقرة : 208)

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (QS Al Baqoroh : 208)

Kita pun harus memahami bahwasanya ber-muamalah  secara Ekonomi Syariah adalah bagian integral dari ajaran dan amalan Islam, menurut hemat penulis bisa dikatakan “menyelam sambil minum air” kita menjalankan aktifitas eknomi untuk pemenuhan kebutuhan hidup/rumah tangga, menjalankan Ekonomi Syariah juga kita menjalankan perintah Allah Swt yang berdimensi ibadah. Ekonomi Syariah itu dating dari Allah Swt dan pasti memberikan keadilan untuk semua umat manusia dan Ekonomi Syariah pun akan berhasil kalau dijalankan secara komprehensif, oleh orang-orang yang benar dengan visi yang benar pula.[17] Semoga kita tetap Itiqomah dan konsisten dalam menjalankan Ekonomi Syariah, dan Insya Allah hidup kita sekalian akan Indah dan Berkah. Terakhir penulis ingin mengutip perkatan Charles Darwin ““ It is not the smartest nor the strongest that will survive, but the most adaptive to change” Berekonomi Syariahlah untuk perubahan dan kehidupan yang lebih baik. Sekian Wallahu’alam Bissawab

Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri  beriman dan bertaqwa kepada Ku, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka di sebabkan perbuatanya”(Al-A’raaf: 96)


[1] liat blog amaizwahid.wordpress.com 

[2]  Mahasiswa Konsentrasi Perbankan Syariah Prodi Muamalat Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Semester 7 dan Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences  Jakarta-Indonesia al-Mustawa  7, saat ini memegang amanah sebagai Ketua Umum Ikatan Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Indonesia-Malaysia (ISDAR) & Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Cirebon (HMC) Seluruh Indonesia Jawa Barat

[3]  Muhammad  Syafii Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik (Depok:Gema Insani dan Tazkia Cendekia, 2001) hal. 3  

[4]  Kitab Durusul Fiqhiyah Juz 1

[5]  Syafii Antonio, Op. Cit., hal. 4

[6]  Ibid, hal. 12

[7] Siti Najma, Bisnis Syariah dari Nol (Bandung:PT Mizan Publika, 2007) cet. 1 hal. 28

[8] Brosur-Prodi S1 Ilmu Ekonomi Islam FE-UI Tahun 2013

[9] Istilah yang sering dikemukakan oleh Muhammad Syafii Antonio

[10] Syafii Antonio, Op. Cit. hal, 13

[11] Siti Najma, Bisnis Syariah dari Nol (Bandung:PT Mizan Publika, 2007) cet. 1 hal. 32

[12] Kamus Mukhtarus-Sihhah, Zainuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Abdul Qodir Ar-Razi (Mesir:Dar-Salam,2006) hal 48

[13] Rokhmin Dahuri, Kedaulatan Pangan untuk Kemajuan dan Kesejahteraan Indonesia, (Majalah Swantara No. 06 Tahun II/September 2013)

[14] Hatta Syamsuddin, Mengenal Prisip Dasar Ekonomi Syariah & Akad-akadnya (Pelatihan KJKS Bina Insan Mandiri, Solo, 26 Januari 2011) slide ke11

[15] Dahuri, Loc. Cit

[16] Jafril Khalil, Krisis Ekonomi Global dan Ekonomi Islam sebagai Solusinya (Seminar International Ekonomi Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu 05 November 2013) slide ke 11

[17] Khalil, Loc. It 



comments powered by Disqus