Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

Kesalehan Sosial Sebagai Indikator Sukses Bisnis Islami

Updated: Kamis 5 September 2013 - 9:19 Kategori: Ekonomi Syariah Posted by: Dr Muhaimin S Ag MA

Indikator kesalehan sosial menjadi indikator terpenting yang sangat relevan bagi ukuran sukses bisnis islami. Sebagaimana dijelaskan oleh Fazlur Rahman, kehidupan dunia, atau lebih jelasnya, perilaku dan aktivitas manusia di dunia, adalah fungsi kehidupan akhirat. Firman Allah dalam Q.S. al-Qasas [28]: 77, sebenarnya merupakan komentar dari sikap hartawan Qarun pada zaman Nabi Musa, yang hanya mengejar kekayaan dunia, tapi melalaikan fungsi sosialnya. Jadi, arti konkret dari orientasi akhirat itu tidak lain adalah "solidaritas sosial" atau "kesalehan sosial", karena perbuatan yang Allah anggap sebagai "perbuatan baik" adalah kebaikan kita kepada orang lain. Dengan kata lain, kebahagiaan di akhirat merupakan insentif moral agar orang menciptakan kebaikan kepada orang lain, dan tidak menyakiti orang lain.[1]

Seperti halnya juga ibadah dalam Islam, hampir semuanya berorientasi sosial. Misalnya, pada ibadah shalat terkandung makna amar ma'ruf nahi munkar, tujuannya agar seorang Muslim jangan menyakiti orang lain. Pada ibadah puasa terkandung makna kepedulian sosial, karena dengan disuruh berpuasa, orang akan dapat merasakan penderitaan orang lain yang sedang kelaparan, diharapkan tergerak hatinya untuk membantu. Pada ibadah zakat terkandung makna bahwa pada harta orang kaya terdapat hak orang miskin, tujuannya agar seorang Muslim membantu saudaranya yang kekurangan harta. Terakhir, pada ibadah haji terkandung makna korban, tujuannya agar seorang Muslim rela berkorban untuk orang lain. Dengan demikian, dimensi sosial dalam ibadah Islam sangatlah kental.

Indikator kesalehan sosial sebenarnya berhubungan erat dengan indikator islami lainnya seperti menjalankan syariat Islam dalam berbisnis, bisa berhaji, dan bisa berzakat, infak, dan sedekah. Indikator kesalehan sosial menjadi fungsi dari menjalankan syariat Islam, sedangkan berhaji dan berinfak sedekah merupakan wujud dari kesalehan sosial.


[1]Dawam Raharjo, Etika Ekonomi dan Manajemen (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1990), hlm. 29.

 


comments powered by Disqus