Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

Nilai Kepatuhan Pada Akad atau Perjanjian yang Berimplikasi Pada Eksistensi dan Keberlanjutan Transaksi Ekonomi Syariah

Updated: Saturday 27 December 2014 - 10:19 Kategori: Ekonomi Syariah Posted by: Muhammad Taufik

Secara khusus, umat islam dianggap sebagai umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Itu semua termaktub didalam bait-bait ayat yang indah yakni Surah Ali Imran Ayat ke-110.  Bukti ini dipertegas bagaikan dua (2) sisi mata uang, dan itu terwakilkan oleh alasan sebagai berikut :

1. Karena orang islam , beriman dengan menyuruh pada yang baik dan mencegah perbuatan yang dilarang.

2. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara makna kalimat pertama diredaksi kembali menjadi : iman dengan cleant goverment and good goverment.

Pemerintah yang bersih dan tata kelola yang baik, secara harfiah dan tekhnis akan mengurangi jumlah-jumlah keambiguitas dan keburukan dalam berbangsa dan bernegara. Keambiguitas dan keburukan itu contohnya adalah merebaknya keterpurukan moral akan amanah yang menggelincirkan orang-orang tertentu untuk menikmati harta yang mungkin dianggap sebagai “ghanimah”. Disinilah terletak nilai-nilai atau moral pribadi yang extraordinary crime.

Maksud pekerjaan yang mereka lakukan adalah korupsi yang merebak luas dipejabat publik. Bahkan mereka melupakan nilai-nilai amanah yang mereka emban, mereka lupa atau memang dilupakan tentang bagaimana letak nilai amanah dan konsistensi. Seharusnya mereka mencotoh nilai amanah dan konsistensi yang baik dan benar didapat dari makna kisah  / shirah perjanjian hudaibiyah yang dilakukan oleh Rasulullah.

Lalu, pelaku extraordinary crime tidak memandang perbuatan ini suatu kejahatan besar, padahal dalam suatu kesempatan Ketua Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama mengatakan : “orang yang korupsi tidak pantas disholatkan”[1]. Ini menjadi kajian serius mengapa dua ulama besar tersebut menginginkan hal itu. Demikian halnya disebabkan kejahatan-kejahatan kecil dimasyarakat dan bid`ah-bid`ah tertentu menjadi brand topic sedangkan kejahatan terhadap bangsa didiamkan oleh masyarakat bahkan seperti diselubungi oleh pihak-pihak tertentu.

Lalu, apa hubungannya dengan ekonomi syariah ? Fenomena diatas, merupakan fenomena yang merebak dibangsa ini tanpa disadari fatal akibatnya. Kebohongan, fitnah, saling menjatuhkan diantara pejabat publik, korupsi, birokrasi yang bak dipinang malu-malu tapi memalukan, sudah menjadi contoh jelas tidak adanya keamanahan dan kepatuhan terhadap suatu pekerjaan dan harapan dari orang-orang yang dipimpinnya. Sifat-sifat ini merupakan kebanyakan mental-mental bangsa Indonesia yakni mental kepiting.[2]

Harapan bangsa ini tentu kedepannya, posisi-posisi strategis dipejabat publik diisi oleh pemimpin-pemimpin yang teguh dalam memegang amanah dan apa-apa yang telah ia ucapkan. Saat ini, bangsa tidak lagi percaya pada politikus, pagi berbicara kedelai lalu malam berbicara tempe. Baiklah, anggap saja ada fermentasi, parahnya menjadi : pagi berbicara kedelai lalu malam berbicara ikan. Banyak hal-hal yang membuat pejabat ini tidak konsisten dengan apa yang diucapkan. Selain itu, bangsa ini juga kurang mengapresiasi pemikiran dan tindakan pemimpin yang sederhana dan berjuang terjun kemasyarakat, namun dijudge sebagai pencitraan. Hematnya seharusnya adalah jangan terlalu cepat menuzum-nuzum orang, manusia tidak punya hak seperti itu selagi itu benar dan baik, lanjutlah, tetap menjadi penonton yang melihat dan ketika berkelok maka tegurlah, tegurlah dengan bahasa yang lemah lembut dan sopan (Ali Imran : 159).

Insya allah, jika nilai-nilai kejujuran, kepatuhan dari suatu yang disepakati, maka apapun rintangan akan diridhoi oleh sang khalik untuk  dipermudah dan di kuatkan persatuannya (rhabithah).

Menyangkutkan pada bidang ekonomi, tentu inilah nilai vital bak ibarat jantung yang akan memompakan darah kesegala arah. Ketika nilai-nilai dari suatu kepatuhan dan keamanahan dari suatu perjanjian dijalankan, insya allah semua alam akan mendukung. Mengapa begitu? Berbalik ke kisah Rasulullah yang sedang berperang melakukan perjanjian Hudaibiyah dengan kaum kafir yang jelas-jelas merugikan umat islam. Namun, islam menghormati, tetap amanah dalam menjalankan perjanjian, tetap istiqamah pada nilai-nilai kesepakatan, maka tak heran : jangankan sesama muslim, kaum kafir pun takjub terhadap nilai-nilai keislaman tersebut.  Lihat dan perhatikan kisah diatas, Rasulullah dan kaum muslimin merasa dirugikan atas perjanjian diatas, namun tetap dijalankan, akhirnya berbuah nangka.

Apabila masih kisah diatas belum terbesit dihati, contoh lagi bagaimana baginda kita : Rasulullah mendapatkan Al-Amin Award : penilainya adalah kaum Quraisyh yang saat itu baginda belum menjadi Rasul. Kurang atau cukupkah kisah ini untuk mewakili kewajiban kita harus tunduk dan patuh atas apa-apa yang kita sepakati ? maka jawabannya adalah lebih.

Harapannya nilai-nilai perjanjian hudaibiyah bisa diambil untuk sebagai pengingat dalam menjalankan transaksi, hubungan komunikasi didalam dunia bisnis. Apabila ini dapat diterapkan, maka unsur-unsur gharar (ketidak pastian) tidak akan terjadi. Para stakeholders akan memandang kita businessman yang integritas, menjunjung tinggi semangat disiplin dan memegang pada suatu hal yang telah ditetapkan. Jika ini dijalankan secara kontinuiti, maka jangan tercengang birokrasi akan berjalan dengan mulus, tidak menyimpan curiga didalam berbisnis, tidak menciderai salah satu pihak, going concern of corporate akan berlanjut, dan sebagainya.

Sehingga, sebagai penutup kata, ekonom saat ini perlu memahami nilai-nilai diatas, arahkan menjadi nilai yang dimiliki ekonom rabbani, karena ekonom rabbani bukan mencari spekulatif (konvensional) melainkan hanya keridho`an Allah semata sehingga mengedepankan integritas dan patuh atas janji, bertujuan demi Indonesia yang lebih dan bermartabat serta kebaikan dari Allah Pencipta Alam Semesta.


[1] Ustad Musholli : 2014

[2] Baharuddin Habibie 

Tulisan: Muhammad Taufik


comments powered by Disqus