Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
SAKSIKAN "ECONOMIC CHALLENGES SPECIAL RAMADHAN" Setiap Hari Kamis Pukul 20.00 WIB di Metro TV

Orientasi Keuntungan ?

Updated: Senin 24 Februari 2014 - 10:10 Kategori: Ekonomi Syariah Posted by: M Aditya Ananda

ORIENTASI KEUNTUNGAN ?

Oleh M Aditya Ananda

“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya..”.

Langkah Dinas Koperasi dan UKM Aceh untuk menertibkan Koperasi yang tidak aktif demi menggenjot kualitas koperasi, bukan hanya sekedar kuantitas, agar kelembagaan koperasi yang ada harus bisa memberikan manfaat kepada anggota dan masyarakat patut diapresiasi. Niat membentuk sebuah kelembagaan koperasi terkadang salah kaprah yaitu untuk mencari dana dimana hal ini lari dari tujuan sebenarnya yaitu untuk membangun sebuah kelembagaan usaha bersama yang kuat demi bisa menopang hidup orang banyak. Dalam perjalanannya, eksisnya sebuah koperasi tentu betul adanya yang dibutuhkan sosok pengurus koperasi yang memiliki moral serta kemampuan interpreneur dalam bidang bisnis dan jasa usaha.

Koperasi memiliki tugas dan fungsi yang hampir sama seperti unit usaha swasta, artinya dalam menjalankan usahanya, orientasi dalam prinsip ekonomi dengan mengambil hasil yang maksimal dengan pemanfaatan biaya yang tertentu dalam menghasilkan barang dan jasa sangat memungkinkan dijalankan agar usaha tersebut dapat terus eksis. Anggota pun akan sangat tertarik dengan semakin tingginya sisa hasil usaha. Namun apakah orientasi memaksimalkan keuntungan semata-mata dengan prinsip ekonomi diatas dalam menahkodai bahtera usaha tersebut akan tetap eksis dijalankan tanpa memperhatikan faktor produksi (input) baik input manusia dan non manusia.

Mari kita lihat sekilas petikan Hadits diatas, apapun niat dalam usahanya baik semata-mata hanya bertujuan profit maka itulah yang didapat. Produksi menurut Islam tidak hanya mencapai laba maksimum namun bertujuan Mashlahah. Fenomena unjuk rasa buruh atau apapun namanya menjadi sesuatu yang memprihatinkan boleh jadi hal ini disebabkan dalam pencapaian tujuan terkadang atau mungkin kurang memperhatikan unsur pendukung tujuan dalam hal ini adalah faktor produksi tenaga kerja. Islam memandang manusia merupakan faktor produksi yang sangat penting, sebab manusia mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan input yang lain.

Produksi Islam

Motivasi produsen mencari keuntungan maksimal sangat dominan dalam ekonomi konvensional. Dalam Islam Produsen akan memproduksi barang yang dan jasa yang memberikan Mashlahah. Mashlahah dalam produksi yaitu Keuntungan dan Berkah. Keuntungan adalah selisih antara pendapatan dan biaya. Berkah didapatkan dengan tidak melanggar larangan syariat. Penerapan berkah dalam produksi sering kali menimbulkan biaya ekstra dalam produksi. Misalnya, agar mendapatkan berkah produsen dilarang untuk melakukan eksploitasi terhadap tenaga kerja dan harus menunaikan hak tenaga kerja dengan baik, meskipun kesempatan mengeksploitasi itu terbuka. Konsekuensinya adalah produsen akan mengeluarkan biaya tenaga kerja yang lebih tinggi.

Contoh lain bisa kita lihat adalah dalam penggunaan input non manusia. Penggunaan kertas bekas dalam usaha photocopy memang memungkinkan akan memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan jika menggunakan kertas (input) yang baru sebab kertas yang baru harus dibeli lagi. Untuk mendapatkan berkah, produsen Muslim akan rela mengeluarkan biaya yang lebih tinggi guna membeli kertas yang baru. Jadi, upaya mencari berkah dalam jangka pendek memang dapat menurunkan keuntungan, tetapi untuk jangka panjang kemungkinan justru akan meningkatkan keuntungan dikarenakan meningkatnya permintaan.

Sebuah produk yang dihasilkan dalam pandangan Islam terdiri dari atribut fisik dan nilai (value). Atribut fisik suatu barang pada dasarnya bersifat objektif, sedangkan nilai bersifat subjektif. Misalnya kita mengphotocopy disalah usaha antara unit usaha yang satu dengan yang lainnya, fungsinya sama yaitu agar kertas yang diphotocopy bisa diperbanyak atau dibaca dll, namun ketika unit usaha yang satu mengeksploitasi tenaga kerjanya dan yang satu lagi menghargai tenaga kerjanya maka unit usaha yang tidak mengeksploitasi tenaga kerjanya tentunya mengadung mashlahah (tidak hanya manfaat tapi juga berkah) dan akan dipilih oleh konsumen.

Memasukan unsur berkah dalam input produksi adalah rasional karena berkah memiliki andil dalam membentuk output. Berkah memang sesuatu yang bukan material dan ini tidak menjadi masalah sebagaimana keahlian juga sesuatu yang tidak material diterima sebagai input. Suatu output yang dihasilkan dengan keahlian rendah tidak lebih baik dari pada output yang diproduksi dengan orang yang memiliki keahlian lebih baik. Output yang dihasilkan dengan kandungan berkah tentunya lebih baik dari pada yang tidak walaupun memiliki atribut fisik yang sama. Rancang bangun dalam teori produksi ekonomi Islam mengedepankan pendekatan integratif antara normatif dan positif serta adanya kausalitas antara norma dan fakta.

Nilai-nilai Koperasi

Mashlahah dalam produksi bisa terwujud didalam penerapan nilai-nilai dalam menjalankan koperasi. Masing-masing anggota dapat mengeksplorasi kemampuannya apalagi jika anggota memiliki bekal latar belakang pendidikan yang berbeda yang diintegrasikan dalam konteks kebersamaan. kebersamaan dalam semangat satu tujuan akan menyadarkan setiap individu bahwa mereka dihadapi berbagai kesulitan ekonomi yang relatif sama yang pada akhirnya semua kesulitan ekonomi akan dapat diatasi dengan usaha bersama-sama. Usaha bersama ini tentu akan terus berjalan dengan dilandaskan kejujuran dan transparan serta kepedulian terhadap orang lain yang berarti masing-masing tidak bersikap egois hanya mementingkan dirinya sendiri, melainkan memiliki kepedulian atas nasib orang-orang lain yang ada di sekitarnya.

Upaya suatu usaha akan terwujud dalam memdapatkan Mashlahah ketika usaha yang dijalankannya baik berbentuk badan hukum apapun tidak mengabaikan nilai-nilai Islam dalam berproduksi diantaranya menghormati hak milik individu, menepati janji, adil dalam bertransaksi, mendorong ukhuwah antar sesama pelaku ekonomi, memenuhi takaran, dan menghindari proses produksi yang dilarang dalam Islam. Penerapan nilai-nilai Islam tidak hanya mendatangkan keuntungan bagi produsen, tetapi juga mendatangkan berkah.

 
Tulisan: M Aditya Ananda


comments powered by Disqus