Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

Strategi Bisnis Syariah Berbasis Paradigmatik Quranik dan Sirah Nubuwwah

Updated: Sabtu 11 Maret 2017 - 12:01 Kategori: Ekonomi Syariah Posted by: mugni muhit

Strategi secara bahasa berarti taktik atau siasat. Sedangkan secara istilah berarti langkah-langkah sistematis yang terukur, terkendali, dan terencana untuk mencapai satu tujuan tertentu. Strategi dapat disimpulkan sebagai pendekatan sistematis untuk satu tujuan yang pasti, di dalamnya mengandung cara-cara (kaifiyat) dan tahapan-tahapan yang harus ditempuh.

Sedangkan bisnis dapat diartikan sebagai usaha, ihtiar, upaya, dan kasab yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan dan kebaikan yang lebih dari sebelumnya. Bisnis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara yang baik dan benar (sesuai hukum dan kaidah perundang-undangan serta prinsip-prinsip kemanusian dan sosial kemasyarakatan), dan dengan cara yang keluar dan menyimpang dari peraturan di atas. Cara yang pertama tentu saja akan mendatangkan hasil dan keuntungan yang baik, sedangkan cara yang kedua akan menggiring pelakunya ke arah yang buruk dan merugikan. Kerugian yang akan diperolehnya pun tidak hanya dirasakan diri sendiri, melainkan juga oleh orang lain.

Selain memperhatikan cara, terdapat jenis-jenis bisnis yang biasa dijalankan oleh kebanyakan pelaku bisnis, antara lain bidang perdagangan, pertanian, peternakan, perkebunan, industri, transportasi, komunikasi, informasi, pendidikan, seni dan kebudayaan, serta bidang perbankan dan non perbankan.

Semua jenis bisnis di atas merupakan bentuk usaha untuk memperoleh keuntungan dan kelebihan ekonomi. Namun tidak semua orang dapat menjalankan bisnis dengan memadukan banyak jenis bisnis dalam satu manajemen atau pimpinan. Oleh karena itu, perlu kerja sama dengan orang lain atau dengan pihak kedua, ketiga dan seterusnya, baik secara individual, kolektif, organisasional, institusional, kelembagaan, bilateral, regional, ataupun multilateral.

Selanjutnya, syariah secara etimologi dan berdasarkan pendekatan linguistik berarti jalan, jalur yang lurus, jalan setapak menuju mata air atau sumber air. Air disinyalir sebagai sumber kehidupan yang mampu memberikan kekuatan dan semangat. Tanpa adanya air dapat dipastikan tidak akan ada kehidupan. Tuhan pun menciptakan manusia dan makhluk lainnya, bahkan bumi beserta seisinya semua berasal dari air. Maka dapat dikatakan, air adalah pusat dan sumber diwujudkanya kehidupan, dan itu adalah cara Allah Swt. memberikan ibrah atau pelajaran kepada manusia untuk hidup seperti air yang mampu memberikan manfaat dan kebaikan kepada orang lain. Secara terminologi, air adalah benda cair yang amat sangat halus, licin, elastis, adaftif, bergerak atau mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah. Air amat sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, semua kreativitas, produktivitas, dan kinerja manusia didukung oleh kekuatan dan kehebatan air sebagai karunia dari Tuhan (Allah Swt).

Sementara syariah dalam perspektif teologis merupakan sekumpulan perangkat peraturan tentang ajaran yang digunakan untuk mengawal kehidupan manusia ke arah yang lebih baik, maju dan dinamis berdasarkan nilai-nilai ketuhanan (nilai Islam). Berdasarkan hal tersebut, syariah mengandung berbagai syari'at, dan syariat itu adalah ajaran, maksudnya ajaran Islam. Dengan kata lain syariah adalah dengan Islam.

Ketika disebut syariah, maka berarti Islam, dan manakala dikatakan Islam, maksudnya adalah syariah. Islam bagaikan badannya sementara syariah bagaikan batinnya, yakni ajarannya. Salah satu ajaran dalam Islam adalah kewajiban kasab, ikhtiar dan usaha mencari karunia Allah Swt (rezeki) yang halal dan banyak untuk bekal hidup di dunia menuju akhirat. Sebagai bentuk manifesatasi dari kasab itu adalah bisnis. Bisnis yang dijalankan seyogyanya bisnis yang halal dan menghalalkan serta diridhai Allah Swt. Bisnis yang seperti itu tiada lain adalah bisnis syariah, bisnis yang dilakukan, dijalnkan dan dikembangkan sejalan, senafas dengan nilai, watak, karakter dan prinsip-prinsip transendental Islam.

Paraktek bisnis syariah maupun kajian konsepsional telah banyak dilakukan oleh berbagai kalangan dan para ahli ekonomi dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pengalaman. Mereka berlomba-lomba menunjukan kemampuan dan keahliannya. Hal ini sah dan dinilai baik, jika dilakukan semata karena li i'lali kalimatilah.  Namun demikian belum banyak yang melakukannya menuju pada tahapan-tahapan menuju idealisme tersebut.

Kinerja ekonomi syariah tidak hanya dilakukan oleh masyarakat zaman sekarang, namun telah berjalan dan bergerak langkah-langkah ekonomi syariah dari sejak dulu. Tentu saja hal ini dilakukan oleh para Sahabat dan tabiin setelah mereka mendapat teladan dan petunjuk dari imam besarnya, yakni Nabi Muhamad Saw. Beliau adalah sosok terpercaya, terhebat, serta sangat piawai dan ahli dalam berbisnis. Tidak diragukan lagi Nabi Muhammad Saw. adalah penggiat pertama sekaligus bapak ekonomi syariah di dunia ini yang membawa rahmat dan berkah kepada seluruh alam.

Kebenaran tersebut dipertegas dalam al-Qur'an, bahwa Muhamad Saw adalah utusan Alah Swt yang bertugas mengawal dan menyampaikan risalah ilahiyyah yang mengatur kehidupan ta'abudiyah, sosial, ekonomi, budaya, seni dan kehidupan berngsa dan bernegara.

Secara khusus Allah Swt. mengambarkan perjuangan para sahabat, terutama sahabat dari bangsa Quraisy yang senantiasa melakukan aktivitas dan amal solehnya dengan menghadapi berbagai risiko sosial dan alam yang panas dan dingin sekalipun tidak menjadi hambatan untuk melakukan perjalanan bisnisnya. Meskipun secara lahirilah perjalanan itu adalah perjalanan bisnis, namun hati, akal dan otak mereka telah dipandu oleh kesucian jiwa, keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Swt, menjadi panduan dan parameter langkah bisnis mereka.

Setidaknya ada 6 karakteristik bani Quraisy yang digambarkan dalam QS al-Quraisy 1-4, yaitu:

1. Rihlah ilmiayah (observasi, kunjungan, silaturahmi, penelitian)

Secara tekstual Allah Swt menggambarkan kebiasaan bani Quraisy yang gemar melakukan perjalanan. Meskipun kondisi alam kurang bersahabat, dingin yang luar biasa mupun panas, hal itu tidak menghalangi niat mereka untuk melakukan perjalan. Kontekstual QS al-Quraisy ini memberikan pesan bahwa perjalanan itu memang amat sangat penting, dan karena Tuhan mengabadikan kebasaan masayarakat Quraisy yang senang melakukan perjalanan. Tentu perjalanan di sini bukan tanpa tujuan dan konsep yang jelas, tetapi perjalanan yang terencana, mengandung tujuan yang jelas dan pasti serta manfaat bagi kebaikan kehidupan.

Perjalanan seperti dinyatakan di atas biasa juga dilakukan oleh masyarakat modern, yakni kunjungan dan observasi, baik dalam koridor silaturahmi maupun penelitian untuk menemukan jawaban atas persoalan kehidupan yang perlu ditemukan solusinya.

2. Ta'abudiyah

Meskipun lahiriyah perjalanan itu dalam rangka mencari rezeki/harta dengan berbisnis, namun perjalanan bisnis tersebut dapat dinilai ibadah, jika dilakukan atas dasar karena Allah Swt dan semata-mata ibadah (lillaahi ta'ala).

3. Tauhidullah

Aktivitas dan amal apapun yang bernilai positif senantiasa mersa dan meyakini adanya pengawalan dan panduan Tuhan, sehinga segenap paradigmanya (mind set) diwarnai dan dibayang-bayangi nilai-nilai Ilahiyyah (ketuhanan).

4. Istiqamah

Istiqomah di sini maksudnya adalah konsistensi dalam menjalankan amal sholeh baik secara pribadi maupun kolektif. Keteguhan dalam berpegang kepada Kebijakan Tuhan menjadi kepribadiannya, situasi dan kondisi apapun tidak dapat merubah kekokohan iman dan taqwanya kepada Allah Swt. Meskipun seluruh manusia di dunia ini bersatu padu mempengaruhinya, tawaran kedudukan dan jabatan yang tinggi, dan harta yang melimpah akan diberikan jika keluar dari nilai-nilai Ilahiyah, orang yang berjiwa istiqamah tidak akan tergiur, bahka ia semakin kuat dan kokoh terus konsisten menjalankah perintah Allah Swt, yakni amar ma'ruf nahy al-munkar.

5. Ta'awuniyah

Prinsip tolong-menolong dan gotong royong dalam kehisupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah menjadi warna tersendiri bangsa Indonesia. Prinsip ini kemudian diinternaslisasi dan dijewantahkan ke dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik ssoail, ekonomi, politik, budaya serta hubungan-hubungan lainnya (muamalah) yang dilakukan manusia, senantiasa dijalankan dalam rangka menolong dan mencoba meringankan beban orang lain. Prinsip ini pun telah masuk ke wilayah lembaga dan institusi pendidikan, keuangan, serta industri-industri ekonomi baik perbankan maupun non perbankan, khusunya lembaga syariah.

6. Ta'miniyah

Secara bahasa ta'min itu adalah keadaan aman, nyaman. Maksdunya dalam keadaan dan kondisi apapun serta dengan siapapun kita berinteraksi dan menjalin kerja sama atau perjanjian dan ikatan-ikatan muamalah, sejatinya memberikan rasa aman dan nyaman kepada kedua belah pihak maupun kepada lingkungan sekitar. Tidak diperkenankan oleh agama Islam, kinerja dan aktivitas kita mendatangkan kemadaratan, kehinaan, dan rasa takut. Ketenangan (muthmainnah) dalam hidup dan dalam bisnis adalah core dari keberhasilan bisnis tersebut. Sehingga kemudian pelakunya akan mendapatkan ketenangan dan keberkahan dunai dan akhirat.

Enam karaktersistik bani Quraisy ini dapat diteladani oleh para penggiat dan pengembang ekonomi Islam, sehingga watak ini menjadi nilai sekaligus strategi dalam bisnis syariah.

Wallahu a'lam.


Penulis : Mugni Muhit

Tulisan: mugni muhit


comments powered by Disqus