Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

STRATEGI MUAMALAH MARHAMAH

Updated: Selasa 23 Juni 2015 - 11:03 Kategori: Ekonomi Syariah Posted by: mugni muhit

Dalam seluruh literatur ilmiah, term muamalah dimaknai dengan hubungan timbal balik, kerjasama, saling membina dan membangun kebajikan. Dalam pengertian yang lebih luas, muamalah merupakan interaksi sosial antara seseorang dengan lainnya atau kelompok dengan kelompok yang lain dalam kegiatan pengembangan ekonomi, keuangan, dan harta berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Prinsip-prinsip dasar muamalah berdasarkan ajaran Islam senantiasa berorientasi dan berbasis maqashid al-syari'ah (tujuan hukum Islam). Salah satu tujuan hukum Islam adalah hifdz al-maal (melindungi kesucian dan kehalalan harta benda). Dalam konteks pencarian harta tersebut sejatinya dilakukan dengan strategi dan cara yang senapas dengan tuntutan syari' (Allah Swt).  

Strategi Islami yang dapat dilakukan dalam proses pencarian harta adalah sebagai berikut:

1. Niat dan kehendak ilahiyah

Niat adalah dasar dan alasan sesuatu pekerjaan atau perbuatan dilaksanakan. Terlaksananya perbuatan adalah indikasi adanya niat. Kehendak atau harsrat merupakan perbuatan yang dilakukan atas dasar sendiri bukan untuk dan karena orang lain.  Sebagai seorang muslim, niat dan kehenddak tentu harus untuk dan karena Allah Swt. agar amal perbuatannya memiliki kebaikan ganda, yaitu duniawi dan ukhrawi.

2. Tujuan yang pasti dan jelas

Tujuan yang pasti dan jelas adalah indikasi keseriusan dan kesungguhan dalam beramal. Seseoraang yang mengerjakan sesuatu tanpa tuuan dan pasti dan jelas, hanya akann mendatangkan kebingungan. Dengan demikian setiap amal harus dipastiikan memiliki tujuan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Motivasi dasariyah

Motivasi adalah dorongan kuat uuntuk melakukan atau meninggalkan. Penting bagi seorang muslim dalam bermualah harus memiliki motivasi karena dan untuk sesuatu yang baik (mashlahah).

Niat, tujuan dan motivasi tersebut dikontruksi dan diwarnai oleh prinsip-prinsip dasar muamalah, yaitu:

a. Ta'awun

Ta'awun adalah sikap saling membantu, menolong, dan meringankan bebeban dan kesulooitan satu sama lain. Rasa cinta, kasih dan sayang sejatinya diterapkan tidak hanya kepada diri sendiri, namun kapada orangg lain. Dalam Islam tidak ada diskrimanasi dalam kebaikan. Ia harus dilakukan secara total dan komprehenshif. Muamalah yang dilakukanpun semata-mata untuk membangun kerja sama saling membatu satu sama lain.

b. Tadhzammun

Tadhzammun maksudnya adalah saling memberikan perlindungan dalam setiap keadaaan. Melindungi diri sendiri dan orang lain dari kehinaan, kelemahan, kebodohan, dan kerugian adalah tugas mulia seoranng musim. Muamalah adalah praktek kerjasama dalam lingkup dan ruang yang terlindungi.

c. Ta'min

Ta'min adalah Saling memberi rasa aman dan nyaman. Demikian juga dalam muamalah, kedua belah pihak haruslah medapatkan rasa aman dan nyaman. Masing-masing merasakan meamanan dalam bekerjasama. Jika ada salah satu pihak yang tidak merasa nyaman dan aman, hal ini adalah indikasi kerjasama yang pasakh bahkan cenderung bathil.

d. Takaful

Menanggung resiko orang lain di samping resiko diri sendiri adalah tindakan yang sangat baik dan mulia. Namun demikian, tanggungan yang diberikan tentu saja sesuai dengan kemampuann dan peluang yang ada dan bersifat imkan. Ketika pertangggungan itu dilakukan di luar batas kemampuan, maka hal itu sebaiknya dihindari, sebab Islam tidak mengajarkan demikian.

e. Ta'dil

Ta'dil adalah implementasi keadilan dan perlakukan yang sama kepada siapapun. Dalam keadilan terdapat pemerataan dan kebersamaan. Muamalah Islami adalah kerjasama untuk mencapai keaadilan dan pemerataan kebajikan. Tidak ada satu orang, pihak maupun wilayah yang termarjinal, terisolir dari sentuhan kebajikan sosial maupun indivudual. Muamalah bukan semata-mata untuk memperkaya diri sendiri, melainkan untuk memperkaya dan memberikan kebaikan kepada orang lain juga. Dalam pandangan Tuhan amal yang dilakukan dengan niat semata untuk memenuhi kepentingan pribadi, maka ia hanya akan mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.

f. Tafahum

Tafahum adalah saling mengerti dan memahami. Hal ini penting sebab dalam hidup dan kehidupan tidak selamanya sesuai dengan yang diinginkan, seringkali rencana tidak sejalan dengan harapan yang sesungguhnya. Oleh karena itu perlu tafahum dalam proses planing dan aktualing guna menghindari mafsadat baik indipidu maupun kolektif.

g. Tasaul

Tasaul adalah tanggung jawab. Saling memiliki rasa tanggungjawab dalam bermuamalah adalah prinsip dasar. Penting bagi setiap orang untuk saling bertanggungjawab dalam bermuamalah sebagai karakteristik muslim. Rasa tanggungjawab adalah indikasi menuju kepada kemenangan (al-fallah) baik dunia maupun akhirat. Orang yang menghindar dari tanggungjawab adalah munafik, dan karenanya ia diancam oleh Tuhan dengan ancaman yang mengerikan, yaitu kehancuran dunia dan akhirat. Disamping itu tuhan tidak akan peduli lagi terhadapnya, ia akan dianulir dari kasih sayang-Nya.

h. Taradhi

Saling menerima, merelakan, dan meridhai satu sama lain adalah konklusi dari segenap daya dan upaya serta ikhtiar kita di dunia. Hal ini agar di samping mendapatkan keberkahan dunia, juga menndapatkan keberkahan akhirat. Seorang muslim meyakini bahawa dirinya akan menjalani kehidupan di dunia dan akhirat, maka seluruh tindak tanduk, amal dan perbutan, langkah dan paradigmanya diorientasikan untuk kepentingan dunia dan akhirat. Jika sesama manusia sudah saling meridhai (haq al-adami), maka Allah Swt pun akan ridha kepadanya. Inilah sesunggunhya akhir dari way of life Muslim.

Tulisan: mugni muhit


comments powered by Disqus