Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

Pengembangan Sumber Daya Manusia, Motivasi dalam Islam

Updated: Senin 20 Oktober 2014 - 10:09 Kategori: Kiat Bisnis Posted by: Adzan Noor Bakri

Tulisan ini diawali dengan melihat kembali apa yang telah ditulis dan di ungkapkan oleh  dua orang pakar dan nama besar dunia yang memperkenalkan teori kecerdasan spiritual. Danah Zohar dan Ian Marshal, setelah mereka sukses memperkenalkan konsep dan paradigma baru dalam dunia psikologi, selanjutnya mereka hadir dengan sebuah ide sebagi hasil atau implikasi dari utilisasi SQ dalam dunia bisnis dan organisasi yang dituangkan dalam sebuah buku berjudul Spiritual Capital. Spiritual capital (modal spiritual) adalah modal yang ditingkatkan dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada dalam diri atau jiwa seseorang, pemanfaatan spiritual capital akan melahirkan kecerdasan hati nurani. Kecerdasan ini yang tidak dimiliki oleh mereka para kapitalis yang motivasi kerjanya hanya demi ‘uang’ yang melahirkan kerusakan lingkungan, kemiskinan, penyakit dan jurang kesenjangan sosial. Sebagai solusi terhadap ideologi kapitalisme, perlu dibangun paradigma baru dalam pemberdayaan masyarakat melalui motivasi spiritual Capital. Pada bagian pertama buku tersebut, Zohar dan Marshal mengkritik secara tajam konsep bisnis kapitalisme yang memposisikan manusia tidak ubahnya seperti hewan yang kehilangan jati diri.

Manusia yang saling bersaing demi untuk memaksimalkan keuntungan materi dan mendapatkan kepuasan setinggi-tingginya. Manusia adalah makhluk yang paling unik, masih banyak yang hidup tanpa arah dan hidup tanpa memiliki arti, maksud dan tujuan, kondisi riil ini tergambar jelas di tengah-tengah masyarakat apalagi bila kita melihat semangat hidup masyarakat yang sangat tergantung dengan “uang” yang notabene uang tidak memiliki rasa nasionalisme dan agama, tetapi uang yang menjadi motivator utama dalam mencapai tujuan hidup kebanyakan manusia, sehingga berbagai cara ditempuh untuk mendapatkannya.

Hidup untuk makan, mungkin kalimat ini menjadi pola pikir dari sebagian orang asa ini. Abraham Maslow dengan teori hierarki kebutuhannya juga mengaminkan pola pikir ini, ia menyebutkan bahwa kebutuhan dasar manusia berkisar pada urusan makan, minum, sex, dan hal-hal yang bersifat materi lainnya, namun ternyata hierarki kebutuhan yang digambarkan seperti piramida 5 tingkat oleh Maslow kemudian terbalik, disebutkan dalam buku Spiritual Capital, kebutuhan utama manusia ternyata adalah mengetahui siapa dirinya sendiri, atau kebutuhan na=Ian aktualisasi diri dan jati diri.

Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa Maslow tiba-tiba berubah pikiran, dan perubahan terbut. Apakah Maslow di penghujung hayatnya menemukan jadi diri yang selama ini ia cari. Betul, bukan hanya Maslow, mungkin di antara anda ada yang memiliki teman, saudara yang menemukan jati diri, arti dan makna hidup di penghujung usianya di dunia, kemudi mereka bisa hidup tenang meski di sisa-sisa umur mereka yang bisa dikatakan sedikit.

Tidak hanya Zohar dan Marshal, Steven Covey penulis buku The 7 Habit akhirnya menambahkan dan terkesan merevisi teori yang telah sangat terkenal tersebut dengan meluncurkan buku berikutnya yang berjudul  The 8th Habit. Bagian pertama buku ini dia isi dengan mengungkapkan sebuah ilustrasi yang berisi keluhan-keluhan yang dianggap mewakili banyak keluhan  karyawan di dunia ini. keluhan tersebut berkisar pada rasa tidak dihargai meski Siantar mereka ada yang telah bekerja semaksimal mungkin sesuai kemampuan, namun atasan mereka tidak pernah memberi nilai yang pantas terhadap apa yang dikerjakannya. Realita ini, banyak dijumpai di dunia kerja, dan ini adalah masalah yang sangat serius, mengapa? Covey mengungkapkan bahwa ketika seorang emimpin perusahaan tidak menyelesaikan masalah keluhan-keluhan tersebut, yang terjadi adalah akan banyak sekali karyawan sebuah perushaaan yang tidak paham tentang visi, misi, dan tujuan perusahaan, mereka ini disebut sebagai Usu dalam selimut yang berpotensi sangat besar untuk membawa sebuah perusahaan dalam kehancuran.

Pada persoalan ini, Islam sebagai salah satu agama yang mengajarkan tentang spiritualitas memiliki pandangan dan solusi yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut karena mengingat bahwa pengembangan sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan adalah sebuah ahli penting dan berhubungan secara tidak langsung, namun signifikan terhadap probabilitas sebuah organisasi/perusahaan. Paradigma pengembangan sumber daya manusia yang dikembangkan oleh banyak perusahaan atau organisasi masih menggunakan paradigma Barat, dan hal ini sangat terlihat pada Six praktis yang sangat terpengaruh oleh budaya USA alias amerikanisasi. Sri Edi Swasono, guru besar ilmu ekonomi Universitas Indonesia dalam banuak tulisannya menyebut ini sebagai sebuah dampak dari globalisasi yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan konteks dunia saat ini. pemahaman terhadap isu globalisasi menjadi sebuah hal yang wajib dimiliki oleh sarjana bidang pengembangan sumber daya manusia dan praktisi bidang ini, sehingga tidak mengherankan ketika di kelas-kelas manajemen sumber daya manusia, masih diajarkan dengan berkubu pada paradigma ekonomi ia[Italia, neoklasik dan globalisasi. Realitas ini juga sering dijumpai di kelas-kelas fakultas, atau jurusan yang berlabel ekonomi syariah. akibat dari perilaku yang keliru, namun terkesan mendapatkan restu ini tentu sangat besar, paling tidak kampus atau lembaga pelatihan bidang sumber daya manusia menciptakan kapitalis-kapitalis baru yang siap memperlakukan manusia tanpa jiwa.

Pasca krisis global yang menghantam dunia terkhusus Amerika dan Eropa, dunia industri yang paling banyak terkena dampaknya harus memutar otak dan kembali berpikir untuk merumuskan paradigma baru dalam pengembangan individu.

Pada titik inilah, manusia kembali berpikir untuk kebali ke ajaran nlai-nilai universal yang ada pada setiap agama yang ada di muka bumi. Ajaran atau nilai-nilai universal tersebut adalah salah satu bagian dari spiritualitas. Ketika berbicara tentang spiritualitas, semua akan dimuali dari individu. Tidak ada sebuah perubahan yang akan tercipta pada sebuah organisasi ketika perubahan tersebut tidak terjadi di dataran individu. Terkhusus untuk ajaran Islam, perubahan diri, atau teladan di dunia kerja dan bisnis sangat erat dan dikaitkan dengan kenabian. Nabi Muhammad selalu ditempatkan sebagai teladan, bukan hanya karena ia utusan Allah, namun secara histrografi, Muhammad memang hidup pada kalangan keluarga yang memiliki profesi sebagai, pengusaha, wirausaha.

Islam fokus pada kritik terhadap sekularisme atau Farhan sekuler yang menjadi tren dan paradigma umum perilaku bisnis. Dunia ekonomi khususnya perilaku bisnis dan usaha, dipisahkan dari urusan agama. Paradigma sekuler membuat perilaku para pengusaha berfokus pada hal-hal yang bersifat materi. Ilmu pengetahuan dan teknologi dijadikan sebagai satu-satunya alat untuk mencapai keuntungan bisnis.

Apakah itu benar, jika memang benar mengapa ilmu pengetahuan dan teknolog yang dianggap dewa oleh para sekularis tidak mampu lolos dari krisis global? Kedua aspek tersebut memang kuat, tetapi tanpa moral tidak akan menghasilkan kebaikan. Rasionalitas yang sangat menitik beratkan pada sesuatu yang dilihat oleh indera memang akan memperoleh kebenaran, namun bukan kebenaran sesungguhnya. Sekularisme dan liberalisme barat menjadikan perilaku bisnis menjadi musuh untuk agama.

Pengembangan sumber daya manusia perspektif islam, ditekankan pada paradigma spiritual sebagai dasar filosofis, bukan paradigma kapitalisme dan sekularisme. Perbedaan paradigma ini tentu menghasilkan banyak perbedaan sudut pandang. Prinsip pengembangan sumber daya manusia versi barat sangat dikontrol oleh buku-buku teks yang telah ada dan hasil karya manusia, namun di Islam, buku teks utama atau sumber primer  adalah al-Qur’an dan Hadith.

Muhammad ditempatkan sebagai seorang  “the ultimate role model.” Hal ini juga disadari oleh para sarjana bidang pengembangan sumber daya manusia dan dikenal dalam sebuah teori ternama “social learning theory.” Jadi tidak ada salahnya ketika Muhammad ditempatkan sebagai model, atau teladan dalam pengembangan sumber daya manusia.

Tidak hanya datang dari hasil pemodelan perilaku Muhammad, prinsip pengembangan sumber daya manusia dalam Islam juga datang dari makna lima rukun Islam. Lima rukun Islam mengajarkan sebuah hubungan yang menghapus hierarki atau kelas-kelas sosial dalam interaksi antar individu. Salat memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, puasa . ajib mengajarkan manusia untuk sabar, dan peka terhadap apa yang dirasakan oleh orang yang ada di sekitarnya, zakat mengakarkan manusia untuk mengalokasikan pendapatan mereka kepada yang membutuhkan sehingga akan tercipta sebuah kesejahteraan sosial, dan haji mengajarkan kesetaraan status di hadapan Allah. Inilah seharusnya yang menjadi fokus pendidikan para calon pekerja belum mereka terjun di dunia kerja. Mereka harus sekali pemahaman tentang ajaran agama Islam sehingga tidak hanya dilaksanakan dengan tujuan menggugugrkan kewajiban.

Ajaran normatif Islam tentang hal ini terbukti saat seorang yang bernama Frederic Harberg yang mengkritik hierarki kebutuhan Maslow. Inti dari studi ini adalah, kebutuhan dasar manusia sebenarnya bukan pada kebutuhan fisiologis, namun kebutuhan aktualisasi diri seperti rasa ingin dihargai dan dihormati. Ketika faktor-faktor dasar seperti kebijakan administrasi, hubungan antara rekan kerja, atau gaji maka bisa dipastikan akan timbul ketidakpuasan, namun jika semua itu tersedia secara detail, tidak ada jaminan akan menghasilkan kepuasan pada diri pekerja.

Jika anda sebagai manajer pada suatu perusahaan,sudahkah anda memuji, mengakui hasil kerja karyawan anda, atau anda hanya lebih fokus memikirkan kebutuhan dasar mereka menurut Maslow dengan terus memikirkan kenaikan gaji, menyediakan fasilitas, dan lain-lain. jika itu asih menjadi paradigma dan perilaku, hentikanlah karena itu tidak menjadi jaminan motivasi, atau produktivitas kerja. Akuilah hasil kerja mereka, maka mereka akan merasa teraktualkan.

Dunia dan budayanya telah berubah. Tren baru, bahwa manusia telah tergerak dengan semangat ingin melihat dunia ini lebih baik adalah bukti bahwa piramida kebutuhan manusia versi maslow harus dibalik, dan penganutnya harus menggeser paradigma tersebut. jauh sebelum Maslow, Islam memalui ajaran universal-nya telah memberikan petunjuk bagaimana memperlakukan manusia. Pengembangan sumber daya manusia semestinya tidak berfokus pada pelatihan, peningkatan kesejahteraan, atau jaminan kerja, namun membudayakan perilaku sebagaimana perilaku sesama manusia.  Manusia bukan robot, manusia memiliki spirit yang membuat dia hidup, membuat ia bernilai, dan membuat ia selalu mencari makna dan memiliki tujuan hidup.

Tulisan: Adzan Noor Bakri


comments powered by Disqus