Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
SAKSIKAN "ECONOMIC CHALLENGES SPECIAL RAMADHAN" Setiap Hari Kamis Pukul 20.00 WIB di Metro TV

Rubrik Ekonomi Syariah di Harian Jawa Pos Radar Jember selama Ramadhan 2015

Updated: Selasa 18 Agustus 2015 - 23:13 Kategori: Umum Posted by: DPW IAEI Besuki Raya

Yaaaa, selama Ramadhan 2015 lalu, IAEI Besuki Raya dapat amanah untuk mengisi Rubrik Ekonomi Syariah setiap Selasa dan Jumat di Harian Jawa Pos Radar Jember. Sayang di sayang, kami tidak sempat membuat kliping di setiap edisi karena kehabisan koran, kehilangan koran dan lain sebagainya. But, ini yang sempat difoto pada edisi perdana. Berikut juga terlampir isi rubrik perdana tersebut...

------

Pertanyaan:

Asswrwb. Saya sering dengar orang mengatakan mengambil kredit di bank syariah lebih mahal daripada bank konvensional. Mengapa bisa demikian? (dr. Hairrudin, M.Kes, FK Universitas Jember)

Jawaban:

Wa’alaikumsalam wrwb. Bank syariah disebutkan lebih mahal itu tidak sepenuhnya benar, Pak. Dalam beberapa hal, ada benarnya. Hal tersebut disebabkan oleh sejumlah hal. (1) Pinjaman di bank konvensional akan dikenai bunga. Bunga tersebut berfluktuasi mengikuti tingkat suku bunga di pasar. Bila terjadi krisis, sesuai dengan perjanjian, angsuran bisa tiba-tiba meningkat. Di bank syariah, akadnya bukan pinjam meminjam. Bila jual beli, akadnya murabahah. Akad itu dilandasi oleh pembelian barang yang riil karena akadnya jual beli dan harga yang putus/pasti sehingga angsuran bank syariah tetap dan tidak terpengaruh suku bunga. Dalam keadaan krisis, angsuran di bank konvensional akan jauh lebih tinggi. Oleh karena itulah, mengingat di bank syariah harus sesuai akad untuk tidak boleh menaikkan atau menurunkan harga di masa depan, maka harga di bank syariah ditetapkan sedikit lebih tinggi sebagai kompensasi tidak adanya kenaikan bila terjadi krisis. (2) Mahal atau murahnya harga perbankan tergantung dari sumber dana para penabung. Bank syariah saat ini hanya didukung oleh sebagian kecil institusi publik, misalnya yayasan Islam, sekolah Islam, perguruan tinggi Islam, rumah sakit Islam dan lembaga amil. Ditambah pula deposito dan tabungan dari umat Islam yang kebanyakan jumlahnya kecil. Penempatan dana haji baru di bank syariah baru belakangan dilakukan pemerintah. Sementara, bank konvensional banyak menampung dana-dana pemerintah yang murah. Oleh sebab itu, untuk memenuhi kebutuhan sumber dana, bank syariah memberi bagi hasil yang lebih untuk menarik dana-dana besar, utamanya dari korporasi. Dana-dana ini umumnya mencari imbal hasil yang tinggi. Komposisi dana inilah yang menyebabkan biaya di bank syariah menjadi bengkak. Hal ini sesungguhnya mencerminkan pula struktur ekonomi umat Islam yang tidak memiliki tabungan yang cukup besar. Sebagaimana diketahui, bank bekerja menghimpun sumber dana jangka pendek (1-12 bulan) untuk dipinjamkan kepada dunia usaha yang bersifat jangka panjang. Deposito yang diambil oleh pemilik, harus segera diganti dengan deposito lain agar mekanisme operasional bank syariah tetap bisa berlangsung. Jadi, peran serta semua pihak sangat dibutuhkan untuk menurunkan biaya dana di bank syariah. Terutama pemerintah agar menempatkan dana murahnya di bank syariah. Sungguh, harga di bank syariah itu sejatinya cermin ekonomi ummat. (Nasrulloh, Anggota Dewan Pembina IAEI Besuki Raya; Pimpinan Bank Syariah di Jember)

c-Edisi%201.1.jpg



comments powered by Disqus