Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

Gerak Cepat Industri Keuangan Syariah

Updated: Jumat 17 November 2017 - 9:38 Kategori: Opini Posted by: Santoso Permadi

IAEI, SURABAYA -- Seiring dengan perkembangan pesat ekonomi digital, industri keuangan syariah pun turut bergerak cepat mengimbangi. Terlebih belakangan lembaga keuangan syariah kian banyak bermunculan di Tanah Air.

Saat ini setidaknya terdapat 13 bank umum syariah, 21 unit usaha syariah, 167 bank perkreditan rakyat syaruah, 58 asuransi syariah, tujuh modal ventura syariah dan 5.000 lembaga keuangan mikro syariah.

"Kalau fintech dikembangkan bisa membantu beroperasinya lembaga-lembaga tadi. Karena dari sisi nasabah hanya 23 juta nasabah atau 8,8 persen dari penduduk Indonesia," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng, yang ditemui dalam rangkaian acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2017, di Grand City Convex, Surabaya, Jumat (10/11).

Untuk meraih peluang tersebut, menurutnya, peran industri keuangan syariah perlu didorong untuk penguatan kelembagaan keuangan syariah dan meningkatkan intensitas sosialisasi kepada masyarakat mengenai keuangan syariah. Selain itu, juga penting dilakukan adopsi teknologi sehingga mendorong munculnya perusahaan teknologi keuangan (fintech) berbasis syariah.

Bahkan, tak menutup peluang adanya kerja sama antara lembaga keuangan berbasis syariah dan para pelaku fintech. "Kita tidak bisa mengabaikan perkembangan fintech. Karena pengaruhnya terhadap peningkatan efisiensi dan kecepatan layanan. Solusi bagi lembaga keuangan syariah untuk dapat bersaing adalah bagaimana menjadi lebih murah, lebih mudah, dan lebih cepat. Salah satunya dapat dicapai dengan mengaplikasikan fintech secara tepat dan berimbang," paparnya.

Sugeng menambahkan, BI melihat peluang penerapan fintech syariah melalui pendekatan tiga pilar pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Pertama, pemberdayaan ekonomi syariah terutama penguatan aspek kelembagaan infrastruktur fintech syariah.

Kedua, peningkatan efisiensi pasar keuangan dengan penerapan fintech secara efisien dan tepat guna. Selain itu, adanya peningkatan riset dan edukasi melalui alih pengetahuan kepada lembaga keuangan syariah di Indonesia serta peningkatan pemahaman masyarakat pada umumnya.

Perkembangan industri fintech dalam negeri terbilang pesat. Bahkan, jenis usaha para pelaku fintech pun kian beragam. Industri fintech bukan hanya menyasar masyarakat yang membutuhkan pinjaman dana dalam waktu cepat dan praktis. Fintech juga mencoba memudahkan masyarakat yang ingin melakukan investasi, jual-beli emas, hingga gadai barang.

Jumlah pelaku fintech pun terus bertambah. Sugeng mengatakan hingga Agustus 2017 sesuai data Asosiasi Fintech Indonesia, terdapat 184 perusahaan fintech dan pangsa pasar terbesar dipegang oleh fintech payment yang mencapai 42 persen atau 77 pelaku.

Dari sisi nominal transaksi fintech di Indonesia selama 2017 mencapai 18,65 miliar dolar AS. Sebagian besar berasal dari kategori fintech payment yang sebesar 18,61 miliar dolar AS. Transaksi tersebut diperkirakan meningkat ke depan menjadi 37 miliar dolar AS pada 2021.

"Peningkatan transaksi yang bergerak eksponensial tersebut akan membawa fintech berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi. Tentunya juga akan mengarah ke fintech syariah terutama di era sistem pembayaran digital," jelasnya dalam acara seminar nasional Growing Demand for Fintech in Islamic Finance and Its Challenges di perhelatan ISEF 2017.