Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
SAKSIKAN "ECONOMIC CHALLENGES SPECIAL RAMADHAN" Setiap Hari Kamis Pukul 20.00 WIB di Metro TV

Banyak BMT yang Memanfaatkan Label Syariah

Updated: Minggu 25 Maret 2012 - 15:34 Kategori: Umum Posted by: Administrator

SEMARANG--Kian populernya sistim pengelolaan keuangan dengan prinsip syariah membawa implikasi pentingnya pengawasan dalam praktik pengelolaan yang dilakukan. Pasalnya, saat ini banyak lembaga keuangan syariah non perbankan, seperti Baitul Maal wa Tamwil (BMT) lembaga keuangan mikro yang hanya memanfaatkan label syariah untuk menarik nasabah.

Lembaga ini menawarkan layanan pengelolaan keuangan secara syariah tapi praktek transaksinya tak jauh berbeda dengan pengelolaan keuangan konvensional. “Pada praktiknya mereka tetap ‘memungut’ bunga dan riba,” ujar Wakil Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Wilayah Jawa Tengah, Muhibbin pada pelantikan pengurus IAEI Wilayah Jawa Tengah, Kamis (5/11).
Praktik-praktik semacam ini, jelas Pembantu Rektor I Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang ini, disebabkan oleh sistim pengawasan syariah untuk BMT yang masih lemah. Kondisi ini sangat berbeda dengan pengawasan kinerja perbankan syariah yang selama ini dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Munculnya praktik melenceng dari prinsip syariah ini muncul akibat pengawasan terhadap BMT atau lembaga pengelolaan keuangan mikro berbasis syariah yang tak berjalan. “Karena itu, permasalahan ini akan menjadi pemikiran IAEI Wilayah Jawa Tengah agar praktik lembaga keuangan ini tetap konsisten menjalankan prinsip- prinsip syariah,” imbuh Muhibbin.

Ia juga menambahkan, ekonomi syari'ah seharusnya mampu menjadi penopang perekonomian di Indonesia. Apalagi, 90 persen penduduk Indonesia mayoritas muslim. “Hanya saja perilakunya –termasuk dalam hal pengelolaan keuangan-- tidak menganut prinsip-prinsip yang Islami,” tambahnya.

Terpisah, Muhammad Irfan dari Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia menyatakan dalam kurun waktu delapan tahun terakhir perkembangan bank syariah cukup pesat. Total aset industri perbankan syariah meningkat 27 kali lipat dari Rp 1,79 triliun pada tahun 2000 menjadi Rp 49,6 triliun pada 2008. “Rata-rata laju pertumbuhan aset dalam lima tahun terakhir sebesar 46,3 persen tahun per tahun,” katanya.

Irfan menyatakan prospek bank syari'ah semakin bagus seiring semakin banyaknya bank internasional (termasuk yang berbasis dinegara barat) yang menjadi pemain industri perbankan syariah. “Seperti International Islamic Financial Market (IIFM), Islamic Financial Service Board (IFSB), AAOIFI, IRA serta keterlibatan IMF dlm pengembangan infastruktur bank syariah internasional,” paparnya.

Hal ini diamini Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Periode 1, Mustafa E Nasution. Menurutnya, prospek ekonomi syariah dimasa mendatang akan mengalami perkembangan pesat. Beberapa waktu lalu, kata dia, ada pertemuan para dekan fakultas ekonomi 60 perguruan tinggi di Indonesia. “Mereka menyepakati akan memasukan mata kuliah ekonomi islam kepada mahasiswa,” imbuhnya.

Untuk itu, Mustafa meminta agar para pengurus IAEI agar tidak menggunakan organisasi ini sebagai ‘batu loncatan’. Karena itu, IAEI harus menjadi wahana pemikiran maupun penelitian ekonomi Islam. Sehingga akan mampu menghadapi perkembangan ekonomi syariah di masa mendatang,” imbuh Mustafa. owo/taq