Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
SAKSIKAN "ECONOMIC CHALLENGES SPECIAL RAMADHAN" dengan tema "Menjawab Kebutuhan Hidup" Malam ini Selasa, 22 Mei 2018 Pukul 20.00 WIB  LIVE di Metro TV |Selengkapnya

Kelebihan Bank Syariah Yang Tidak Dimiliki Bank Konvensional

Updated: Rabu 25 April 2018 - 10:28 Kategori: Umum Posted by: Media IAEI

IAEI, JAKARTA - Perkembangan perbankan syariah dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan. Hal ini bisa dilihat dari market share perbankan syariah yang telah berhasil keluar dari five percent traps. Meski pangsa pasarnya telah tembus 5%, perbankan syariah masih terus berusaha meningkatkan pangsa lagi di masa depan. Harapannya, akan semakin banyak masyarakat yang terbantu dengan adanya perbankan syariah.

Ketua V Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Agustianto Mingka menjelaskan, salah satu upaya untuk meningkatkan market share bank syariah adalah dengan melakukan sosialisasi produk dan layanan kepada masyarakat. Pasalnya, tingkat literasi keuangan syariah nasional baru mencapai 8% jika merujuk survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurutnya, bank syariah memiliki kelebihan dan keunggulan ketimbang bank umum. Hampir semua transaksi yang dilakukan di lembaga keuangan bisa memakai akad syariah. "Asalkan, bisa menghilangkan unsur riba atau bunganya yang dalam ajaran Islam adalah haram," katanya pada workshop perbankan syariah dengan tema "Meneropong Celah Bisnis Melalui Akad- Akad di Perbankan Syariah, Senin (16/4).

Ia memberi contoh, dalam sistem perbankan konvensional tidak ada transaksi gadai karena hal itu merupakan domain jasa pegadaian. Tapi itu tidak berlaku pada bank syariah. "Pada bank syariah ada yang namanya rahn yakni akad yang digunakan dalam proses gadai barang," terangnya.

Agustianto juga menyebutkan akad sewa yang menjadi keunggulan bank syariah lainnya, yakni ijarah karena tidak ada dalam produk bank konvensional. Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri. Dalam praktiknya, dalam sewa-menyewa ini berkembang akan yang disebut ijarah al-maushufah fi al-dzimmah atau sewa inden.

Kini, banyak perusahaan swasta dan BUMN yang memanfaatkan akad sewa inden ini karena tidak dicatat sebagai utang, sehingga positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. "Dengan akad sewa inden atau ijarah al-maushufah fi al-dzimmah, bank syariah bisa menyewakan barang yang belum jadi atau masih dibuat oleh vendor," sebut Agustianto.

Akad akad lainnya yang bisa dilakukan dalam bisnis syariah antara lain istishna yang digunakan dalam transaksi jual beli dengan adanya pemesanan barang dan pembayaran dilakukan dengan cara dicicil atau bertahap. Kemudian, kafalah yakni akad yang digunakan dengan adanya pemberian jaminan dalam suatu transaksi. Selain itu, akad murabahah yakni akad ini juga diguankan untuk transaksi jual beli. Juga ada qardh yakni akad yang digunakan untuk peminjaman di mana pengembalian dana yang dipinjam besarnya tetap sama atau tidak bertambah.


Sumber