Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

Pariwisata Halal Berpotensi Menyumbang Devisa Negara

Updated: Rabu 1 Agustus 2018 - 13:42 Kategori: Umum Posted by: Media IAEI

IAEI, JAKARTA - Wisata halal di Indonesia berpotensi menyumbang devisa negara yang sangat besar jika dikelola dengan baik. Indonesia telah masuk dalam kategori Top 5 Destinasi Pariwisata Halal Dunia, dengan penerimaan devisa negara mencapai US$ 13 miliar, yang berkontribusi terhadap PDB sebesar US$ 57,9 miliar.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan pariwisata halal saat ini tengah populer dan menjadi fenomena di kalangan pelaku industri pariwisata global.

“Sebagai negara kepulauan terbesar dengan lebih dari 17.000 pulau, 300 suku, 746 bahasa dan dialek serta lebih dari 800.000 masjid, Indonesia berpotensi besar untuk terus berkontribusi meningkatkan pendapatan negara melalui moslem friendly tourism,” kata Bambang yang juga selaku Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) dalam High Level Discussion Ekonomi Syariah di Jakarta, Rabu (25/7).

Moslem traveler memiliki pengeluaran terbesar dunia pada sektor pariwisata, yang besarnya mencapai US$ 120 miliar pada 2015. Sementara, pada tahun yang sama, pertumbuhan wisatawan muslim meningkat hingga 6,3%. Pengeluaran wisata muslim global ini cenderung terus meningkat, mencapai US$ 169 miliar pada 2016, dan diperkirakan akan mencapai US$ 283 miliar pada 2022.

Data pariwisata halal global saat ini menunjukkan Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara dengan turis muslim terbesar, dengen pengeluaran mencapai US$ 9,7 miliar atau setara dengan 141 triliun, dengan total turis domestik sebesar 200 juta orang.

Pada 2020, sektor pariwisata diproyeksikan menjadi kontributor terbesar bagi penerimaan devisa negara. Peningkatan ini merupakan hasil positif dari akselerasi halal tourism di beberapa destinasi wisata Indonesia, seperti Lombok, Padang, Aceh, Bangka Belitung, Jakarta, hingga Maluku tara.

Selain itu, atraksi yang unik serta sarana yang memadai telah mendukung secara signifikan pada peningkatan pariwisata halal. Faktor kunci pendukung wisata halal di Indonesia, di antaranya adalah dukungan kebijakan dan regulasi, pemasaran dan promosi, serta pengembangan destinasi melalui atraksi aksesibilitas dan amenitas. Selain itu, peningkatan kapasitas pariwisata yang mencakup sumber daya manusia dan industri juga  menjadi unsur yang sangat penting. 


Sumber