Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
[CALL FOR PAPER] 2nd Annual Islamic Finance Conference - Youth Islamic Economist Forum 2017 | Yogyakarta , 23-24 August 2017 | MORE INFO  

Umat Islam Masih Punya Kekuatan di Bidang Ekonomi

Updated: Senin 15 Mei 2017 - 14:03 Kategori: Umum Posted by: Santoso Permadi

IAEI, BOGOR -- Meksi sektor hulu dan hilir ekonomi nasional belum dikuasai, namun umat Islam masih memiliki kekuatan untuk itu. Ada kewajiban berjamaah yang harus dilakukan dengan kekuatan yang ada.

Rektor STEI Tazkia sekaligus Wakil Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), Syafi'i Antonio menjelaskan, kalau hulu dan hilir ekonomi sudah dikuasai yang lain, umat Islam masih punya kekuatan daya beli dan kekuatan memilih di arena politik. Maka kedua kekuatan ini harus digunakan dengan benar agar tidak salah pilih dan tidak salah beli.

Indonesia punya kelas menengah dan kelompok usia muda yang besar. Di 2015-2035, populasi terbesar di Indonesia adalah milenial yang punya daya beli. ''Siapa yang manfaatkan? Bukan umat Islam. Nah, kita harus manfaatkan ini dengan produk dan layanan yang bagus,'' kata Syafi'i dalam Dialog Kebangsaan di forum Days of Islamic Economics Revival (DINAR) 2017 STEI Tazkia, Sentul, Kabupaten Bogor pada Kamis (11/5), dilansir republika.co.id.

Muslim punya konsep fardhu kifayah. Selama ini, fardhu kifayah selalu identik dengan shalat jenazah, padahal bukan hanya itu. Menyelamatkan ekonomi syariah lebih dahsyat dari menyelamatkan anak kecil yang tenggelam.

Kalau Muslimah saat ini bisa menutup aurat dengan baju yang baik, maka mempunyai garmen bagi Muslim adalah fardhu kifayah. Muslim jadi produsen produk yang kompetitif kualitas dan harganya, itu fardhu kifayah umat Islam.

''Yang bisa umat lakukan adalah berjuang dengan semangat berjamaah,'' kata Syafi'i.

Umat Islam jangan fokus ke perbedaan, tapi berjuang pada yang jadi kesamaan. Semoga dengan berjamaah, umat Islam bisa bersama membangun ekonomi syariah. ''Insya Allah ekonomi syariah baik untuk semua,'' kaya Syafi'i.

Sumber : Republika