Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

Urgensi Studi Ekonomi Islam

Updated: Sunday 20 April 2014 - 11:42 Kategori: Wawancara Posted by: Ricky Dwi Apriyono

Indonesia merupakan Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Hal ini tentunya menjadi sebuah keuntungan bagi Bangsa, apabila kualitas penduduk muslimnya baik, maka Indonesia akan menjadi Leader di antara Negara-negara lain. Namun kenyataannya, berdasarkan Human Development Report 2013  yang dikeluarkan oleh United Nations, Indonesia berada diurutan 121.

Rencana besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menciptkan Generasi Indonesia Emas tahun 2045 menunjukkan bahwa saat ini Indonesia fokus pada peningkatan Sumber Daya Manusia. Berbagai sektor menjadi perhatian Bangsa seperti teknik, sains, pertanian, keuangan, akutansi, hukum, agama, kedokteran, ekonomi sosial dan budaya. Sektor ekonomi menjadi sangat penting karena menjadi tolak ukur stabilitas suatu bangsa. Indonesia sudah beberapa kali dilanda krisis ekonomi akibat kesalahan sistem perekonomian. Sistem ekonomi kapitalis terbukti gagal karena berulang kali menimbulkan krisis.

Ekonomi Islam menjadi sorotan berbagai Negara karena terbukti mampu bertahan dari krisis. Indonesia membutuhkan banyak Sumber Daya Manusia yang mampu mengembangkan Ekonomi Islam. Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan pemuda  yang mempunyai semangat tinggi dalam mempelajari dan memahami ilmu Ekonomi Islam (Ekonom Rabbani).

Dimas Bagus Wiranata Kusuma adalah Mahasiswa program doctor Ilmu Ekonomi Islam di International Islamic University of Malaysia (IIUM) yang berasal dari Indonesia. Saat ini Dimas aktif sebagai asisten peneliti senior divisi edukasi dan bank sentral di Bank Indonesia. Ditemui pada saat acara IFN Forum 2014 di Hotel Shangri-La, Dimas menjelaskan bahwa Ilmu Ekonomi Konvensional itu ibarat ilmu yang berjalan tanpa ruh, dalam arti ekonomi konvensional melupakan darimana ilmu itu berasal. Ketika kita belajar Ekonomi Islam, kita diajak untuk kembali mengenal dan memahami kenapa perlu belajar Ekonomi Islam. Alasan selanjutnya adalah kita mengalami “the loss of adab”. Manusia seolah-olah mengalami kebingungan dalam berilmu, sehingga ketika kita tidak memahami Ekonomi Islam, maka manusia dicoba untuk dipisahkan dari asal ilmu itu.

Ilmu Ekonomi Islam bukan hanya mentransformasi sebuah ilmu. Tujuan dari Ekonomi Islam bukan terletak pada kesuksesan individu dan materi tetapi terletak pada kemaslahatan umat atau kesejahteraan. Dimas menuturkan kunci sukses untuk memahami ilmu Ekonomi Islam adalah menguasai ilmu alat yaitu bahasa, baik bahasa inggris maupun arab, memahami ilmu agama dan menguasai ilmu ekonomi. Ketika seseorang telah menguasai kesemua kunci tersebut maka diharapkan menjadi seseorang yang integrated.

Jumlah penduduk Indonesia yang telah meraih gelar Doktor (S3) baru 23.000 dari jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta, tentunya jumlah ini masih relatif sedikit jika kita bandingkan dengan Malaysia yang jumlah penduduknya 29 juta (2012), namun jumlah doktornya sudah 14.000. Dari hal ini, Dimas mengatakan bahwa Mahasiswa Indonesia belum mengetahui prospek dan menyatu dengan ilmu yang mereka pelajari saat ini. Jika Mahasiswa tersebut sudah menyatu dan mengetahui prospek dari ilmu yang sedang dipelajari maka semangat untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya akan tumbuh.

Pesan Dimas untuk para Mahasiswa dan aktivis Ekonomi Islam adalah Pandanglah ilmu Ekonomi Islam sebagai sebuah amanah yang harus kita jaga, tetaplah rendah hati dalam berilmu dan tetap semangat dalam berbuat seperti penelitian dan penyelenggaraan acara yang dapat mengembangkan dan mengkonsistensikan keberadaan Ekonomi Islam.

Authors: Ricky Dwi Apriyono is Public Relations of The Indonesian Association of Islamic Economist (IAEI) and Riris Agustya is Public Relations Officer for AJB Bumiputera 1912, Jakarta Regional Office. They can be contacted at apriyono@iaei-pusat.org and ririsagustya89@gmail.com, respectively.