Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

Bank Syariah: Low risk high return?

Updated: Jumat 26 Juni 2015 - 10:36 Kategori: Perbankan Posted by: Tastaftiyan Risfandy

Dewasa ini, siapa yang tidak mengenal bank syariah? Lembaga keuangan ini mengalami perkembangan yang luar biasa di Indonesia hingga kita bisa menemuinya sampai di kota-kota kecil. Bank ini bahkan dapat kita jumpai sampai di desa-desa meskipun dalam bentuk dan nama yang relatif berbeda yaitu BMT. Mengapa bank syariah berkembang sedemikian cepat di Indonesia?

Ernst and Young dalam Islamic Bank Global Competitiveness Report mengutarakan bahwa perkembangan industri perbankan syariah di dunia sangat pesat dengan pertumbuhan asetnya mencapai dua kali pertumbuhan aset industri perbankan konvensional. Bank Indonesia melalui laporan DPbS-BI juga menyatakan bahwa meskipun market share bank syariah masih sangat kecil jika dibandingkan dengan “lawannya”, namun pertumbuhan bank ini sangat menggembirakan. Selain karena edukasi yang diberikan oleh BI maupun lembaga lainnya melalui seminar dan promosi langsung, masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim mulai merasa bahwa bank syariah adalah bagian dari tuntunan agama dalam hal ekonomi.

Salah satu prinsip bank syariah yang menjadi pembeda bagi bank konvesional adalah prinsip bagi hasil. Prinsip ini muncul sebagai jawaban atas banyaknya kritik yang dialamatkan kepada bank konvensional mengenai sistem kredit yang “mencekik” bagi wirausaha dan pemberian bunga yang relatif kecil bagi deposan. Apabila kita melihat lebih dalam pada prinsip bagi hasil ini, sebenarnya prinsip ini bertentangan dengan prinsip high risk high return yang terdapat dalam dunia keuangan modern. Sistem operasional bank syariah seolah menyangkal prinsip ini karena bagi hasil bermakna low risk high return baik bagi penyedia dana ataupun bagi pengguna dana.

Dalam sistem bagi hasil, posisi nasabah bagi bank adalah mitra bisnis, bukan hanya seseorang yang menitipkan dananya seperti halnya di bank konvesional. Posisi nasabah hampir sama dengan posisi pemegang saham, sehingga dalam literatur akademis, nasabah bukan depositor namun pemegang akun investasi (Investment Accounts Holder—IAH). Sebagai mitra investasi bagi bank, nasabah akan bekerjasama dengan bank. Nasabah akan mempercayakan dananya kepada bank untuk kemudian diinvestasikan oleh bank pada tempat yang telah disepakati bersama. Selanjutnya, bank akan memberikan return bagi  nasabah sesuai dengan kesepakatan awal kedua belah pihak. Apabila bank dalam suatu periode mendapatkan keuntungan yang lebih dari biasanya, maka saat itu pula nasabah akan mendapatkan bagi hasil yang melebihi yang biasanya. Di sisi yang lain, saat bank menjadi penyedia dana bagi pelaku usaha, lagi-lagi sistem bagi hasil yang menguntungkan dapat kita lihat secara jelas aplikasinya. Keuntungan yang didapat investor dalam pengoperasian usahanya akan dibagi-hasilkan dengan bank. Bukankan hal ini sungguh menarik?

Apabila di bagian awal diutarakan bahwa bank syariah lebih menguntungkan (high return) namun lebih ringan risikonya (less risk), maka melalui ilustrasi bagi hasil yang saya utarakan tersebut sebenarnya juga sudah cukup jelas tentang rendahnya risiko yang diperoleh kedua belah pihak. Bank syariah hanya perlu membagi keuntungan yang dihasilkan dalam periode tertentu sesuai dengan keadaan finansial bank tersebut. Apabila kondisi perekonomian sedang lesu dan bank syariah terkena dampaknya, bank syariah tidak perlu memaksakan diri untuk memberikan return yang tinggi kepada depositor seperti yang dilakukan oleh bank konvensional. Di sisi nasabah sebagai pengguna dana, keuntungan yang dibagi dengan bank syariah juga “hanya” akan sesuai dengan keuntungan yang didapat dari operasional usahanya.

Bagaimana dengan kritik yang dewasa ini dialamatkan pada bank syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya? Kritikus bank syariah secara umum mengatakan bahwa bank syariah secara esensial tidak berbeda dengan bank konvensional. Hal ini didukung dengan banyaknya fakta yang mengatakan bahwa bank syariah dan lembaga keuangan syariah yang lain lebih “mencekik” wirausaha jika dibandingkan dengan bunga yang dibebankan bank konvensional kepada pelaku usaha. Selain itu, prinsip bagi hasil juga belum diterapkan secara maksimal, terbukti bahwa penyaluran dana dengan akad mudharabah selalu lebih kecil daripada penyaluran dana lewat akad murabahah atau yang lain. Bank syariah sebenarnya tidak syariah, sehingga keberadaannya sia-sia. Benarkah?

Fakta-fakta yang disampaikan di atas memang ada benarnya, tidak salah, begitulah keadaanya. Adanya kritik-kritik tersebut justru sebenarnya malah membangun bagi bank syariah untuk meningkatkan layanannya, memperbaiki produk-produknya, dan menyediakan sistem kemitraan yang lebih sempurna seperti yang telah disinggung di awal. Apabila ingin memberikan kontribusi bagi perkembangan ekonomi negara ini, selain mengkritik, dapat pula dengan menggandeng bank syariah sebagai mitra. Kita perlu mengingat kembali bahwa bank syariah sangat dekat dengan perekonomian riil masyarakat, berbeda dengan bank konvensional yang lebih dekat dengan transaksi non rill seperti produk derivatif. Kita perlu mengingat kembali bahwa bank syariah merupakan back-up bagi perekonomian nasional atas rendahnya risiko akad yang dijalankannya dan jauh dari sistem bunga. Kita juga perlu mengingat kembali bahwa di tahun 1998 disaat krisis ekonomi melanda Indonesia sehingga banyak bank konvensional yang berbasis riba dilikuidasi, bank syariah -yang saat itu hanya ada Bank Muamalat saja- tetap berdiri tegap dan nampak tidak merasakan dampak krisis ekonomi tersebut. Sehingga, tunggu apa lagi? Mari bersama kita buktikan bahwa prinsip high risk high return tidak berlaku di bank syariah. 



comments powered by Disqus