Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

Atasi Kesenjangan, Ekonomi Islam Harus Terus Dikembangkan

Updated: Tuesday 28 February 2017 - 10:51 Kategori: Opini Pengurus Posted by: Admin IAEI

IAEI, YOGYAKARTA -- Guru Besar yang juga merupakan Konsulat Fatwa dan Riset Eropa, Jasser Auda mengatakan, tugas utama ekonomi Islam saat ini adalah mengembangkan dirinya untuk dapat melangkahi sistem ekonomi yang berlaku saat ini.

"Jangan sampai instansi-instansi ekonomi Islam hanya menyiasati sistem yang ada dengan membuat hilah agar tetap aman dari riba, tetapi, dalam waktu yang sama ia tetap berfungsi sebagai instansi penambah uang yang mengumpulkan uang dari orang-orang dan disetor kepada orang yang lebih kaya," ujarnya saat menjadi keynote speech dalam seminar internasional yang digelar Fakultas Tarbiyah dan Dirasat Islamiyah Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, dilansir republika.co.id Rabu (22/2).

Menurut Jasser Auda, saat ini sistem ekonomi di dunia sangat timpang. Kesenjangan sangat terlihat antara masyarakat yang kaya dan tidak. "Hampir 99 persen dari jumlah manusia kini bekerja keras untuk melayani 1 persen yang memilki 99 persen dari sumber daya. Kini, elite ekonomi menguasai semuanya, tidak mengetahui kebaikan, mereka berinvestasi untuk kepentingan mereka sendiri, bukan juga untuk kemaslahatan negaranya," ujarnya.

Menurutnya, sistem ekonomi ini terpusat pada riba dan tengah mengausai ekonomi dunia. "Kini, jika orang biasa untuk mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya harus bekerja keras untuk melunasi utang yang ia dapat untuk tujuan itu. Kini uang menjadi terpusat dan berputar di antara orang kaya, yang merupakan minoritas yang sangat kecil," katanya.

Diakuinya, saat ini negara-negara kuat  memaksa negara lemah untuk berutang dan dibebani riba. Akibatnya negara lemah harus bekerja keras untuk menutupi utang tersebut, ujar Jasser.

Sebaliknya Jasser mengungkapkan, ekonomi Islam didasari oleh kesetaraan antara manusia, karena Islam tidak bertujuan untuk menjadi semua orang kaya, tetapi Islam juga tidak memperbolehkan adanya kesenjangan yang mencolok. "Dan kesenjangan antara 1 persen dan 99 persen ini adalah garis merah yang dilarang dalam Islam," ujarnya.

Karena itulah sistem ekonomi Islam ke depan harus bisa terus dikembangkan dan bisa melampaui sistem ekonomi yang berjalan saat ini. Pengembangan ekonomi Islam menurutnya bisa dimulai dari perguruan tinggi Islam di Indonesia.

"Peran universitas sangat penting  untuk mengukuhkan pardigma dan pandangan dunia Qurani mengenai kenyataan sekitar kita. Dalam rangka ini, perlu saya tekankan pentingnya berangkat dari Quran, dengan mengembalikan vitalitas konsep-konsep Qurani," katanya.


Sumber : Republika