Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059
Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , TwitterInstagram dan Youtube Channel dengan tagar #EkonomiIslam

Industri Keuangan Syariah Optimis hadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Updated: Jumat 20 Juni 2014 - 8:25 Kategori: Siaran Pers Posted by: Ricky Dwi Apriyono

IAEI - Kesiapan Industri Keuangan Syariah Indonesia menjadi salah satu sorotan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kesiapan ini dibahas dalam Seminar Nasional Ekonomi Islam "MEA 2015 : Tantangan dan Peluang Bagi Industri Keuangan dan Perbankan Islam Indonesia" yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), Sekolah Pascasarjana Universitas Yarsi dan Paramadina Graduate School dengan menghadirkan Mohamad Sohibul Iman (Wakil Ketua DPR RI), Moch. Muchlasin (Direktur IKNB Syariah OJK RI), Dwi Irianti Hadiningdyah (DJPU Kementerian Keuangan RI) dan Yuslam Fauzi (Wakil Ketua Umum IAEI) pada Rabu, 18 Juni 2014 di Universitas Yarsi. Acara ini diawali dengn penandatangan nota kesepahaman antara IAEI, Universitas Yarsi dan Paramadina Graduate School.

"Perbankan Islam kita mempunyai prospek yang luar biasa", ujar Sohibul Iman dalam Keynote Speech. Sohibul Iman menambahkan bahwa Perbankan Syariah harus memperkuat Institutional Framework agar dapat bersaing dalam MEA. "Saat ini, Cina dan Singapura sedang berbenah agar para sultan dan raja-raja dari Timur Tengah mau menyimpan uang di sana," ujar Shohibul Iman. Menurut Sohibul Iman, tantangan terbesar dari Perbankan Syariah dalam menghadapi MEA adalah Sumber Daya Manusia. "Bank Indonesia pada tahun 2006 memprediksi bahwa Perbankan Islam membutuhkan 25 ribu SDM dalam 20 tahun kedepan", ujar Sohibul Iman. Perkembangan Perbankan Islam tidak cukup hanya dilakukan oleh aktivis Ekonomi Islam tetapi para birokrat dan politisi harus ikut berperan. Dalam kata penutupnya beliau menyampaikan, "Indonesia berpeluang menjadi hub atau pusat Keuangan Islam Dunia".

Moch. Muchlisin sebagai salah satu Narasumber menjelaskan bahwa tidak hanya perbankan syariah yang menjadi perhatian, tetapi Industri Keuangan Non-Bank Syariah pun turut diperhatikan. "Saat ini Asuransi Indonesia berada dalam urutan 118 di dunia", ujar Muchlisin. Hal ini membuktikan masyarakat Indonesia belum sadar ber-asuransi. Peluang Industri Perbankan maupun Non-Perbankan dalam menghadapi MEA adalah Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan pasar yang lebih luas, aliran modal yang bebas akan dapat dimanfaatkan Indonesia untuk membangun industri dan liberalisasi perdagangan akan memberikan kelancaran dan efesiensi penyaluran barang karena tidak adanya hambatan berupa tarif atau non tarif.

Salah satu instrumen keuangan syariah yang diakui dunia adalah Sukuk. Dwi Irianti menjelaskan bahwa hal ini terbukti dengan diraihnya 28 penghargaan Internasional atas Sukuk Negara. Sukuk Negara telah disahkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tahun 2008 dan sampai saat ini Sukuk Negara yang sudah dikeluarkan sudah lebih dari Rp 200 Trilyun. Dwi Irianti menambahkan perkembangan industri keuangan Islam yang pesat, tingginya demand atas instrumen keuangan syariah dan komitmen Pemerintah dalam mengembangkan industri keuangan syariah domestik menjadi peluang penerbitan dan pengembangan Sukuk kedepan khususnya dalam menghadapi MEA 2015.

Narasumber ketiga, Yuslam Fauzi, menjelaskan bahwa Perbankan Syariah butuh pegawai yang tidak sedikit. "Rata-rata kebutuhan pegawai Perbankan Syariah Pada tahun 2007-2013 adalah 6150 orang/tahun, kedepannya dengan asumsi pertumbuhan SDM 30.9% per tahun maka kebutuhan SDM tahun 2017 adalah 20.838/tahun", ujar Yuslam. Tantangan SDM Perbankan Syariah adalah kompetensi. Kompetensi SDM Indonesia berada pada urutan 44 pada tahun 2012. Yuslam optimis apabila kompetensi SDM Indonesia khususnya di bidang Industri Keuangan Syariah terus dikembangkan maka Indonesia akan sukses hadapi MEA.